Rabu, 21 November 2012
The Day I Fall In Love
On a day he sent me a message, “Do I need to send an ambulance to you?” – I got butterflies in my stomach. Why? Because that day was one of the saddest day of my life. I was brokenhearted.
When I heard his mother wanted me to be her in law – My heart fluttered.
When he asked, “Will you marry me?’” – I wavered.
In a hospital, while he was taking care of my sisters – I was afraid for the first time. If this man doesn’t love me, what do I do? What would happen with my life?
Later, I knew he has liked me for a long time. He taught me that as a woman I should know how valuable I am. He won’t allow me to pick him, because a man should do it for me. I feel like I’m a great woman for no reason.
For the very first time, I find a man who loves me more than I love him. Well, people say that it is good for the man to love the woman more, right? For making me feel that I'm an attractive woman, I thank him.
Since then, I treasure him more. When he’s having a hard time, I cry with him. If he gets hurt, I’ll hurt with him. I decided to love only him for the rest of his life. I promise to Thee that I won’t let his heart breaks nor put tears in his eyes.
Now, it’s been 10 years since ‘I vow I do’. We’ve been blessed with one child that looks like me and another one that looks like him.
“Our marriage tastes like wine, because it gets better with age.”
‘You’ as my half and ‘I’ as yours, until our black hair becomes white and we get wrinkles..Until our lives end, you’ll spend the rest of your life with me. I hope the two of us will love each other sweetly like now until forever.
Rabu, 31 Oktober 2012
What is "Amazing Grace" anyway?
Beberapa minggu lalu, ketika mendengarkan suami terkece khotbah,
Roh Kudus mengingatkan gue akan kehidupan gue yang lama. Mau tahu bagaimana
keadaan gue sebelum gue ketemu Kristus?
“Hidup yang tak menentu arah tujuan..Dalam tawa mereka, tersimpan duka..”
Bait lagu di atas tepat menggambarkanny! Berlatar belakang kepahitan dan haus kasih, akhirnya mencari kasih di jalan dan hidup berantakan di sebuah taman kelam. Bersama para sahabat dan saudara senasib sepenanggungan, kita mengisi hari dengan tertawa, menangis, mabuk dan bersenang-senang. Kelihatannya sih happy tapi sebenarnya ‘sakit’. We were longing for love and acceptance. Sekalipun sepertinya kelam, tetapi kenangan masa itu menjadi kenangan indah untuk gue kenang sekarang. Kenal arti persahabatan, membuat kehidupan remaja gue menjadi seru juga menyenangkan. Tapi akhirnya, jerat Narkoba membuat satu persatu jalinan kawan meregang. Tidak hanya meregang, bahkan gue harus merelakan dengan berat hati, beberapa sahabat yang ‘pergi terlalu cepat’.
Berbincang dengan salah seorang sahabat tentang masa lalu, membuat ia berkata begini ke gue, “Li, gue gak yakin semua orang Kristen ngerti apa itu Amazing Grace atau anugerah. Tapi, gue ngerti bangeeeet! Kebayang gak Li, hidup kita dulu seperti apa, tetapi kemudian Tuhan tetap mau selamatkan dan pulihkan. Kita yang benar-benar gak layak, Dia layakkan. Manusia aja udah give up kan sama kita?”
Pernyataannya menggugah hati gue. Gue yang gak cantik, gak punya banyak bakat dan talenta, juga bukan konglomerat. Gak ada yang spesial yang membuat Tuhan akan diuntungkan, kalau gue diselamatkan-Nya. What would happen with my life without Jesus? Gak kebayang! Entah gue pun tinggal nama yang tidak membekaskan arti sedikit pun atau hidup dalam penderitaan yang lebih pedih, dari pada sekedar kepedihan karena kepahitan akan orang tua. Menikah dengan laki-laki jahat, mungkin? Iiih serem! Jadi, klo sekarang gue menikmati hidup dalam kepenuhan berkat Tuhan, itu semata-mata cuma karena “ANUGERAH”.
So, what is "Amazing Grace" anyway? “Amazing Grace” adalah kesadaran
diri, bahwa kita tuh sebenarnya terlalu ‘brengsek’ untuk diselamatkan
oleh Allah.
“Hidup yang tak menentu arah tujuan..Dalam tawa mereka, tersimpan duka..”
Bait lagu di atas tepat menggambarkanny! Berlatar belakang kepahitan dan haus kasih, akhirnya mencari kasih di jalan dan hidup berantakan di sebuah taman kelam. Bersama para sahabat dan saudara senasib sepenanggungan, kita mengisi hari dengan tertawa, menangis, mabuk dan bersenang-senang. Kelihatannya sih happy tapi sebenarnya ‘sakit’. We were longing for love and acceptance. Sekalipun sepertinya kelam, tetapi kenangan masa itu menjadi kenangan indah untuk gue kenang sekarang. Kenal arti persahabatan, membuat kehidupan remaja gue menjadi seru juga menyenangkan. Tapi akhirnya, jerat Narkoba membuat satu persatu jalinan kawan meregang. Tidak hanya meregang, bahkan gue harus merelakan dengan berat hati, beberapa sahabat yang ‘pergi terlalu cepat’.
Berbincang dengan salah seorang sahabat tentang masa lalu, membuat ia berkata begini ke gue, “Li, gue gak yakin semua orang Kristen ngerti apa itu Amazing Grace atau anugerah. Tapi, gue ngerti bangeeeet! Kebayang gak Li, hidup kita dulu seperti apa, tetapi kemudian Tuhan tetap mau selamatkan dan pulihkan. Kita yang benar-benar gak layak, Dia layakkan. Manusia aja udah give up kan sama kita?”
Pernyataannya menggugah hati gue. Gue yang gak cantik, gak punya banyak bakat dan talenta, juga bukan konglomerat. Gak ada yang spesial yang membuat Tuhan akan diuntungkan, kalau gue diselamatkan-Nya. What would happen with my life without Jesus? Gak kebayang! Entah gue pun tinggal nama yang tidak membekaskan arti sedikit pun atau hidup dalam penderitaan yang lebih pedih, dari pada sekedar kepedihan karena kepahitan akan orang tua. Menikah dengan laki-laki jahat, mungkin? Iiih serem! Jadi, klo sekarang gue menikmati hidup dalam kepenuhan berkat Tuhan, itu semata-mata cuma karena “ANUGERAH”.
Dan “anugerah” tersebut bisa sampai ke gue tentu karena ada
orang-orang yang Tuhan pakai untuk ambil andil di dalamnya. Gue tidak
hanya berhutang kepada Kristus, tetapi juga kepada beberapa orang, yang
mau memberikan dirinya dipakai Tuhan untuk membawa gue kepada Bapa.
Hutang yang tidak akan pernah bisa gue bayar.
Dan, gue bukan orang yang bisa hidup santai dengan punya hutang! Walau gue tahu, kalau apa pun yang gue kerjakan dan lakukan, gak akan bisa melunasi hutang gue, tetapi bukan berarti gue diem aja dan anggap impas. I don’t want to take it for granted. That’s why I serve Jesus with my whole heart. Setiap kali Bapa suruh gue untuk melakukan sesuatu, gue gak pernah bilang ‘gak’, meskipun jujur, kadang tugas itu sepertinya di luar kemampuan gue. Such as, jadi Wl. Ha ha ha.. Gue gak punya suara bagus dan kemampuan nyanyi yang mumpuni sebenarnya. Cuma karena anugerah-Nya saja, gue bisa melakukannya. Juga waktu awal Tuhan suruh gue penginjilan dan berkhotbah, puasanya berhari-hari bok saking takut krn ngerasa gak bisa!! Apalagi kalau bicara soal memberi ‘uang’. Gue bukan orang kaya raya dengan uang berlimpah, tetapi kalau Tuhan gerakkan, gue amat susah nolak. “Memberi itu tidak harus tunggu kaya,” kata Tuhan. Contohnya: Persembahan Janda miskin (Lukas 21:4).
Well, gue menulis hal-hal di atas bukan bermaksud untuk pamer, tetapi untuk menceritakan, bahwa hidup sebagai orang yang berhutang tak terbayar, membuat gue tidak bisa berkata, “Tidak!” kepada Allah. Gue juga tidak mungkin menjadi sombong untuk pencapaian-pencapaian gue saat ini, karena I know for sure, that I am nothing without GOD. Bisa apa sih gue, klo gak karena Tuhan????
Dan gue membayar hutang gue kepada mereka yang juga memiliki andil dalam karya keselamatan Kristus dalam hidup gue, dengan cara memberi diri untuk dipakai Tuhan seperti mereka. Gue gak mau menyerah untuk memberitakan Injil dan melayani orang-orang untuk dibawa kepada Yesus. Setiap kali gue capek dan mulai malas, gue akan ingat, bahwa apa jadinya gue, kalau dulu mereka menyerah dalam menjangkau gue dan keluarga gue?
Dan, gue bukan orang yang bisa hidup santai dengan punya hutang! Walau gue tahu, kalau apa pun yang gue kerjakan dan lakukan, gak akan bisa melunasi hutang gue, tetapi bukan berarti gue diem aja dan anggap impas. I don’t want to take it for granted. That’s why I serve Jesus with my whole heart. Setiap kali Bapa suruh gue untuk melakukan sesuatu, gue gak pernah bilang ‘gak’, meskipun jujur, kadang tugas itu sepertinya di luar kemampuan gue. Such as, jadi Wl. Ha ha ha.. Gue gak punya suara bagus dan kemampuan nyanyi yang mumpuni sebenarnya. Cuma karena anugerah-Nya saja, gue bisa melakukannya. Juga waktu awal Tuhan suruh gue penginjilan dan berkhotbah, puasanya berhari-hari bok saking takut krn ngerasa gak bisa!! Apalagi kalau bicara soal memberi ‘uang’. Gue bukan orang kaya raya dengan uang berlimpah, tetapi kalau Tuhan gerakkan, gue amat susah nolak. “Memberi itu tidak harus tunggu kaya,” kata Tuhan. Contohnya: Persembahan Janda miskin (Lukas 21:4).
Well, gue menulis hal-hal di atas bukan bermaksud untuk pamer, tetapi untuk menceritakan, bahwa hidup sebagai orang yang berhutang tak terbayar, membuat gue tidak bisa berkata, “Tidak!” kepada Allah. Gue juga tidak mungkin menjadi sombong untuk pencapaian-pencapaian gue saat ini, karena I know for sure, that I am nothing without GOD. Bisa apa sih gue, klo gak karena Tuhan????
Dan gue membayar hutang gue kepada mereka yang juga memiliki andil dalam karya keselamatan Kristus dalam hidup gue, dengan cara memberi diri untuk dipakai Tuhan seperti mereka. Gue gak mau menyerah untuk memberitakan Injil dan melayani orang-orang untuk dibawa kepada Yesus. Setiap kali gue capek dan mulai malas, gue akan ingat, bahwa apa jadinya gue, kalau dulu mereka menyerah dalam menjangkau gue dan keluarga gue?
Kembali ke hari Minggu di mana gue mendengarkan suami terkece gue khotbah tentang ‘Misi’. Gue melayangkan pandangan ke sekeliling, dan tampak pandangan-pandangan bosan dan tidak antusias akan topik ini. Topik yang memang tidak menarik, karena topik ini bukan topik berkat yang akan menyenangkan daging.
Tetapi, bagi mereka yang paham, bahwa sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berhutang, maka beban akan jiwa-jiwa tidak mungkin tidak membakar jiwa mereka. Mereka yang tahu persis apa itu arti “anugerah”, tidak akan mungkin biasa-biasa saja atau sembarangan saat melayani Tuhan. Mereka yang mengerti, kalau tanpa Yesus, maka mereka bukan siapa-siapa, pasti tidak akan bisa menjadi congkak akan pencapaian mereka.
Mereka yang merasa berhutang paling banyak kepada Allah, adalah mereka yang pasti akan terlebih mengasihi Dia. (Lukas 7:41-42). Dan, mereka yang mengasihi Dia, tidak mungkin berkata, “Tidak!” akan perintah-perintah-Nya, terutama perintah “Amanat Agung-Nya”.
Selasa, 23 Oktober 2012
"Demi Sang Waktu"
FIRST LOVE
The reason why first love is so beautiful isn’t because first love itself is beautiful. It’s not because the people we first loved were actually good, handsome/pretty or perfect. During that time, we had our youth - which was vicious. You - who was overly innocent, and me - who was uncontrollably passionate. And…because we already knew that we would never be able to go back to our youthful, innocent, and passionate times.
First love is thoughtless. If you don’t calculate and just throw your innocence and passion at it, it’ll end up failing. But that’s why it’s dramatic. The thoughtless stories, mixed with the emotions and warmth that can never be retrieved again. That's why first love is my life’s most dramatic story. Therefore, failure is even okay. Instead of a happy ending, a sad ending remains in the memory longer. So, it’s okay to leave even just one sad ending of a failed first love in one small portion of my life.
When romance ends, life takes over. Innocence gets dirtied, passion dies out, and youth starts getting old. So the innocent period of first love wears out and becomes a past event. That’s why it seems like first love never comes true. No one talks about the success of a first love.
Every roller-coaster ride comes to an end, and we’ve just fallen down the last drop and are pulling into the station.
First love is a period of time. It never comes back. Now, the next love comes so time has to yield for that new love. It might not be as naive or innocent as the first love, but it’s more mature, due the pain suffered from the previous love story.
And it’s happier to love someone this way. Even though there will be no more tragic drama in my life, there’s a bigger familiarity than an old comfortable sweater, and when the familiarity gets old, there’s a heart-fluttering feeling that we can look back at.
From a friend, to my boyfriend, as husband and wife, and now we are the parent’s of our two adorable sons. We passed through the same time period and passion, shared the same memories, and now are getting old together. This familiar heart-fluttering moment…I love it!
So, what’s the big deal about the first love? I’m not a person who hanging on to her first love so dearly (not like somebody I know *big grind*). The one who is beside me now that matters the most for me…
*Reply 1997*
Jumat, 14 September 2012
TERLALU MANIS UNTUK DILUPAKAN
Sekarang gue mau lanjut beberapa lagu lain dengan kisahnya masing-masing yang mengharu biru perasaan gue, karena membawa gue ke masa lalu… Masa-masa yang klo Slank bilang sih, “Terlalu manis untuk dilupakan..” Memory that will last forever..Things I don’t ever want to forget..
5. Bersama Keluargaku
“Bersama keluargaku melayani Tuhan. Bersatu s’lamanya mengasihi Engkau…Bagi kami, Engkau segalanya.”
Dulu gue gak percaya, bahwa sebuah pernikahan yang bahagia itu ada. Hubungan orang tua gue kurang baik. They fought almost everyday before they finally decided to get divorce..My childhood was a nightmare :( Suatu ketika, saat ibadah khusus di gereja, para penatua berserta keluarga mereka naik ke panggung menyanyikan lagu ini. I was touched and tears were falling from my eyes.
Salah satu keluarga yang menyanyi di atas panggung kala itu adalah pembimbing rohani gue. She & her husband love God so much..They also love each other deeply..They are my inspirator and my role model.. They treat and spoil each other sweetly..They're the reason why I believe that true love does exist. Pernah gak sengaja nguntit mereka di sebuah mall..Pengen liat bagaimana mereka kalo lagi gak di depan jemaat..Guess what? Bahkan jauh lebih manis dan romantis.. Gue mungkin gak tahu kapan tanggal mereka menikah dan anniversary ke berapa yang mereka rayakan tahun ini, tapi gue tahu banget kalo "they’ll live happily ever after".
Gue bilang sama Tuhan, kalau gue pengen punya keluarga seperti mereka, di mana Allah adalah segala-galanya. Bersyukur sekarang gue menikmati sebuah pernikahan yang bahagia. Walau baru 10 tahun dan masih panjang waktu yang akan kami lalui. Tapi gue percaya, selama kami mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya, gelombang badai hidup tidak akan mampu menghempaskan kami.
6. Kecaplah Dan Lihatlah
“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu. Rasakan dan nikmati, kasih setia Tuhan.”
Once upon a time, gue ditunjuk koordinator pelayanan gue untuk menjadi ketua panitia KKR di wilayah Blok M. Brosur dibikin, dana dicari, semua persiapan dan kerempongan dikerjakan dengan semangat 45. Tibalah hari “H”, dengan semangat berapi-api, kami pengurus dan panitia datang ke gedung tempat acara diadakan. Tunggu punya tunggu, sampe sudah lewat 1 jam dari waktu yang ditentukan, gedung tetap kosong binti sepi. Jemaat yang hadir cuma 1 orang, yaitu Aya, yang adalah sohib gue dari SMA, selebihnya adalah panitia dan anggota PD Blok M. Nyeseeeeeek banget gue..! Mana malunya bok, rasanya langit runtuh..ha ha ha (lebay!). Gue lari ke mobil dan mogok gak mau keluar, sampe pembimbing rohani gue turun tangan untuk ngebujuk gue masuk ikut ibadah.
Nah, lagu ini adalah tema yang gue ambil untuk KKR malam itu. Ha ha ha….Tiap kali denger lagu ini, gue pasti teringat akan kejadian menyedihkan tetapi juga kocak itu. Dulu waktu mengalaminya sih gue nangis termehek-mehek, tetapi sekarang, gue bisa cekikikan kalo inget peristiwa tersebut. Tapi melalui kejadian ini gue belajar, bahwa kegagalan tidak membuat gue harus menyerah dan berhenti. Coba lagi dong aaaah!
7. Dan ‘Ku Kan Menari
“Kau t’lah ubah ratapanku, menjadi tarian. Kau hapuskan keluh kesahku, gantikan dengan pujian….Dan ‘ku kan menari..Di hadapan Raja ‘ku menari..Sambil memuji-Mu ‘ku menari..Kaulah sukacitaku Tuhan..”
Nyambung dengan kejadian KKR di atas, gue yang semula down, di-encourage untuk membuat lagi KKR. Pembimbing gue bilang gini, “Adet, kalau gagal sekarang, jangan pundung dong. Justru kamu harus buat lagi, dengan target yang jauh lebih besar!” Itulah pentingnya punya mentor ya booook!!!! Rugi deh kalo loe gak mau dimuridkan :D
Setahun kemudian, KKR kembali kita selenggarakan dengan tema “JOY” (giliiiiing gue masih inget aja ha ha ha). Kali ini gak main-main, tempat yang kita pilih waktu itu adalah Gedung Granada yang sekarang jadi Balai Sarbini. Tepat di tengah Jakarta dengan target 1000 orang dan dana yang fantastis. Jumpalitan kita ngerjainnya. Cari dana sampe ngos-ngosan ha ha. Naik turun bis untuk ngamen, jual perhiasan hadiah dari Nyokap, keliling nyodorin proposal sampe ngumpulin barang bekas untuk dijual. Gak cuma cari dana, kita juga bikin tim doa yang kuat dengan jam doa puasa yang gak putus. Sementara yang lainnya keliling ke sekolah-sekolah untuk publikasi plus nyebarin brosur di jalan-jalan.
Tuhan benar-benar ubah ratapan kami jadi tari-tarian malam itu. Gedung penuh dengan orang-orang yang dijamah Tuhan dengan suasana pujian yang begitu luar biasa. Lagu di atas bener-bener menggoyang Granada. Gue dan semua orang yang ada di dalam gedung itu nari-nari dengan penuh sukacita. Puncaknya, ketika tantangan pertobatan, anak-anak muda menyemut maju ke altar untuk menerima Yesus. Pemandangan yang jauh lebih indah dari sunset di Kuta Bali (sedaaaaaap!) he he he.
See, jangan pernah berpikir untuk menyerah! Coba kalo gue nyerah, gue akan kehilangan pengalaman ini, kan? Rugi deeeeh..:D
To be continue…..
Kamis, 13 September 2012
MUSIC DOES CREATE ATMOSPHERE
Bukan nuduh atau suudzon ya, tapi gue rasa setiap orang pasti pernah mengalami fase lunturnya pudarnya rasa cinta terhadap pasangannya. Atau supaya gak ekstrim gue bilangnya fase jenuh. Masih berkomunikasi dengan baik, masih tidur bareng, tapi perasaan di hati lempeeeeng aja. Gak ada letupan-letupan gimanaaaaa gitu, seperti awal-awal kita jatuh cinta. Dulu liat dia senyum aja tuh dada kita kaya mau pecah. Begitu terima sms dari doi, dari laper mendadak langsung kenyang (yak, ini jelas banget lebaynya hihihihi).
Begitu juga dengan hubungan kita dengan Tuhan. Mungkin kita masih beribadah, Saat Teduh, memuji n menyembah, bahkan melayani, tetapi kita melakukannya dengan perasaan yang datar. Gak dengan rasa rindu yang menggebu-gebu. Semua sudah menjadi sebuah ritual biasa. Secara tampak luar memang kondisi kita masih baik-baik saja, tetapi kalo gak buru-buru kita bereskan, ini akan menjadi hal yang berbahaya. Tuhan peringatkan, bahwa kehilangan cinta mula-mula tuh sebuah hal yang gak Dia suka (Wahyu 2).
Ketika gue merasa jenuh, biasanya yang gue lakukan adalah merestorasi playlist di hp dan komputer gue. Music does create atmosphere :D. Tembang-tembang Greatest Memory akan memenuhi playlist tersebut. Ada lagu-lagu rohani yang memiliki arti khusus buat gue, karena lagu-lagu tersebut menjadi lagu sountrack kisah KITA (gue dan Bapa).
1. Sukacita Penuaian
“Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang yang bermimpi. Waktu itu mulut kita penuh dengan tawa, lidah kita dengan sorak sorai….”
Setiap kali mendengar lagu ini, entah kenapa mata gue cenderung untuk berkaca-kaca, walaupun lagu ini memiliki beat yang cukup cepat dan bukan lagu slow melow. Karena lagu ini mengingatkan gue akan suatu malam di mana gue sedang bergumul untuk pemulihan keluarga gue, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, gue menerima janji Allah yang begitu rhema. Pertama kali gue denger apa itu “Suara Tuhan”. Dan, beberapa tahun kemudian, gue melihat Allah menepati janji-Nya ini.
2. Ke Manakah Aku Dapat Pergi
“Ke manakah aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu Tuhan? Kuberlari mendaki ke langit, namun Engkau ada di sana…”
Gue inget banget waktu itu gue lagi “bandel” dan jatuh setelah sebelumnya gue memberi diri gue untuk sungguh-sungguh ikut Tuhan. Pulang dugem (istilah ABG jaman sekarang), gue masuk ke kamar Nyokap untuk tidur. Iseng gue nyalain tape dan kemudian lagu ini berkumandang. Tiba-tiba tuh dada gue terasa nyeeeezzzzz banget. Gue nangis nyesel sendirian di kamar. Malam itu Roh Kudus menarik gue kembali ke hadirat-Nya.
3. My Heart Will Trust In You
“Though I'll walk through valley's low, I'll fear no evil...By The Water still my soul, my heart will trust in You...”
Lagu ini juga daleeeem banget buat gue. Waktu itu gue dan beberapa rekan dalam perjalanan misi ke Lampung. Gue bawa mobil dan bisa dibilang semua yang ikut itu perempuan. Gak ada laki-laki macho yang mengawal kita. Untuk ke tempat yang kita tuju, kita melewati daerah yang cukup mengerikan. Hutan dengan jalanan yang jelek, gelap binti sepi, plus gosip banyak perampokan terjadi di tempat itu. Ngeri lah pokoknya. Well, tapi gue menolak untuk takut dong ah! Then, God put this song in my mouth. Gue nyanyiin lagu ini berulang-ulang, sampai iman pun bangkit. Ketika esoknya kami mengalami kecelakaan dan ditodong senjata tajam (mirip clurit gitu) oleh orang yang gak kami kenal pun, lagu ini kembali terngiang-ngiang di hati gue. Entah kenapa gue bisa tenang menghadapi orang-orang tersebut, sampe akhirnya Tuhan menolong dengan cara ajaib-Nya, sehingga kita bisa meneruskan perjalanan dan pulang dengan selamat (walau mobil penyok di mana-mana) he he he.
4. Selain Kau Tiada Yang Lain
“Selain Kau tiada yang lain, ada padaku di sorga. Selain Kau tiada yang lain, yang kuingini di bumi…”
Sebagai Ababil (ABG LABIL), tentulah gue pernah patah hati :D. Dan, kehilangan seseorang yang gue sayang itu bukan hal yang mudah untuk gue lewati, bahkan sampai hari ini. Kehilangan Nyokap Januari lalu masih bikin gue galau dan termehek-mehek, persis kaya waktu gue patah hati dekade silam. Tapi, lagu ini selalu berhasil bikin gue kembali berserah penuh kepada kehendak Allah. Gue inget waktu itu gue lagi nemenin temen yang latihan musik untuk pelayanan Minggu, gue denger lagu ini untuk pertama kalinya. Malamnya sebelum tidur, gue terngiang lagi akan lagu ini. Saat itu Tuhan seperti menantang gue.
“Li, kamu pilih saat ini, dia atau AKU. Pilihlah malam ini anak-Ku, bukan mereka tapi Aku. Kau akan lihat bahwa tak pernah tak yang terbaik yang Kuberikan dan rancangkan untuk hidupmu.."
And I chose My Heavenly Father that night :D
Well, kalo gue list masih banyak lagi lagu-lagu memory yang mengiringi perjalanan gue bersama Bapa di sorga, di mana masing-masing lagu punya cerita yang khusus dan so sweet (bacanya dengan nada centil ya..). Lagu-lagu galau yang bikin hati gue akan kembali berdegub kencang, mata berkaca-kaca karena melalui lagu-lagu tersebut, Tuhan membawa gue kembali melihat kasih-Nya yang duahsyat luar biasa. Lain kali gue akan share lagi..Sekarang cukup dulu yaaaa. Kudu pulang ke rumah hehehe
So, kalo loe jenuh, coba deh puter kembali lagu-lagu nostalgia loe dengan Bapa. It works on me..GBU…
*While I’m writing this note, I get overwhelming by His Grace.
Rabu, 01 Februari 2012
Tiada Yang Mustahil Bagi Allah
Dalam perjalanan pulang setelah liburan Natal dan Tahun Baru, saya merenungkan sebuah terminologi “Tiada Yang Mustahil Bagi Allah Dan Orang Percaya”. Pengistilahan yang kerap sekali saya dengar beberapa waktu belakangan, baik di ibadah-ibadah maupun melalui ucapan saudara-saudara seiman, dalam rangka menguatkan diri mereka dan saya untuk tidak takut menghadapi tahun 2012, yang katanya begitu tidak pasti dan keadaan akan semakin sulit.
Tidak hanya di kalangan gereja tetapi di dunia sekuler pun, para motivator kerap menggunakan terminologi “Tidak Ada Yang Mustahil”, sebagai dorongan bagi sikap optimis, bahwa kita mampu menjadi apa saja dan mencapai sukses (biasanya dalam bidang bisnis atau karier). Ada sedikit ketidaknyamanan di hati saya pribadi melihat kalimat tersebut diucapkan tidak pada konteks yang benar.
Banyak kita kerap memakai ayat Lukas 1:37 dan Markus 9:23 dalam konotasi berkat keuangan. Banyak orang yang saya dengar mengutip perkataan Tuhan ini, saat mereka mengklaim janji-janji Allah atas hidup yang berkelimpahan dalam konotasi yang sempit, yaitu hanya berkat keuangan saja. Ketika mereka merindukan memiliki rumah, mobil, terbebas dari lilitan hutang, bisnis yang sukses atau promosi di karier, kerap kali ayat-ayat di atas pun kita gembar-gemborkan, yang tanpa kita sadari sebenarnya hal tersebut mencerminkan kekhawatiran kita akan realitas tidak enak yang sedang kita alami. Bahkan, kadang saya kerap dibuat geram dengan ungkapan yang diucapkan dengan nada seolah-olah Tuhan kita adalah Allah yang pelupa dan kerap harus diingatkan untuk memberkati atau menolong kita. Tidakkah kita melihat jejak keserakahan, juga kekhawatiran serta kerapuhan manusia dibalik akhir sebuah doa dengan ungkapan, “Bukankah tidak ada yang mustahil bagi-Mu ya Allah?” Janji Allah akan kelimpahan, pelipat gandaan dan promosi, hanya kita kaitkan pada bentuk fisik dan materi, tidak salah memang, tetapi ketahuilah, bahwa ada hal yang jauh lebih besar dan berarti, yang Allah mau kita alami lewat janji-janji-Nya tersebut.
Dalam Lukas 1:37, firman Tuhan melalui malaikat Gabriel mengatakan kepada Maria untuk tidak perlu takut karena Ia dipilih Allah untuk mengandung Sang Juruselamat. Ketika Maria bingung bagaimana hal itu mungkin sebab ia belum bersuami, malaikat Gabriel mengatakan, bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kita dapat melihat dalam konteks ini, ayat tersebut muncul untuk menguatkan Maria yang takut dan ragu dalam menjawab visi Allah yang besar melalui hidupnya. Ketika ia mendengar firman Allah di atas, Maria akhirnya berserah dan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ketika Maria mendapat pernyataan tersebut, ia meluruhkan keakuannya dan menundukkan dirinya kepada kehendak Allah. Jadi konsep ‘Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Allah” dalam ayat ini adalah konsep melepaskan bagi Allah dan bukan menerima dari Allah.
Begitu juga jika kita baca Markus 9:23, Yesus mengucapkan kalimat “tidak ada yang mustahil bagi orang percaya” bukan dalam konotasi berkat keuangan atau karier, tetap saat itu ada seorang yang kerasukan setan yang tidak juga keluar sekalipun para murid telah mengusirnya. Tetap konteks yang hadr di sini adalah karya keselamatan dalam Yesus Kristus.
Jadi kita dapat belajar sebuah arti baru dari ungkapan "Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Allah Dan Orang Percaya", yaitu kemampuan Ilahi yang Tuhan curahkan, supaya kita bisa taat melakukan kehendak-Nya dan menggenapi visi-Nya. Pengucapannya harus pada penyelarasan kehendak kita pribadi dengan kehendak Allah, bukan pada *HEDONISME* ala buku The Secret atau konsep motivator-motivator dunia. Contohnya, ketika Allah menyuruh Anda pergi menginjili seseorang yang rasanya tidak mungkin bertobat, pergi saja, karena apa yang mustahil buat manusia itu tidak bagi Allah (Baca Kis. 9:1-17).
Seorang hamba Tuhan menubuatkan, bahwa memasuki tahun Ayin Beth, ekonomi dunia akan memburuk tetapi sejumlah gereja Tuhan dalam ukuran kasih karunia tidak akan menderita dan bahkan melalui tangan mereka akan mengalir aliran keuangan baru untuk satu tujuan, yaitu memfasilitasi penuaian jiwa-jiwa yang sangat besar. Saya mengaminkannya. Mengapa? Karena memang saya percaya, bahwa berkat keuangan yang melimpah memang tidak sulit untuk Allah curahkan atas kita, tetapi bukan untuk kepuasan pribadi atau membiayai gaya hidup kita, tetapi karena ada tujuan Allah yang besar melalui hidup kita, yaitu penuaian jiwa-jiwa yang besar. Jadi jangan kita mengaminkan nubuatan di atas hanya pada batas kalimat: Akan mengalir aliran keuangan baru, dan mengindahkan kalimat lanjutannya yaitu: Untuk memfasilitasi penuaian jiwa-jiwa yang sangat besar.
Allah berkata kepada Musa untuk tidak takut menjalankan panggilan-Nya untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Ia menyertai Musa dan memberikannya kuasa yang luar biasa, kemampuan Ilahi untuk Musa dapat menggenapi visi Allah dalam hidupnya. Begitu juga dengan Anda dan saya. Ketika Allah mempunyai rencana yang besar bagi keselamatan banyak orang melalui kita, maka Ia memberikan peneguhan kepada kita, bahwa apa yang tidak mungkin untuk kita lakukan sebagai manusia, maka bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Pelipatgandaan, promosi juga perkenanan Tuhan tidak hanya berkonteks pada berkat jasmani, tetapi jauh lebih besar dari itu, bahwa Allah hendak memakai hidup kita sebagai alat keselamatan-Nya. Ada pelipatgandaan jiwa-jiwa yang diselamatkan dan diberkati melalui hidup kita. Ada promosi Ilahi atas ketaatan kita dalam melakukan firman-Nya. Dan ada perkenanan Tuhan atas hidup kita, karena hidup kita didapati sesuai dengan kehendak-Nya.
Jumat, 27 Januari 2012
I miss you so much, Mom...
Bangun tidur dengan perasaan gloomy, galau or whatever yang sejenis tuh gak enak banget. Penyebab kegalauan sangat gue pagi ini adalah mimpi ketemu Nyokap. Jelas banget setiap detailnya. Dia mau ke pesta resepsi pernikahan tapi herannya polos banget. She looked happy though. Berblouse hitam dan mengenakan rok brokat berwarna merah. Waktu gue bilang, “Mak, roknya keren deh.” Dgn gaya centilnya (yang susah gue lupa) dia jawab, “Iya dong. Ini kan bahan yang mau gue kasih ke elo, tapi loe gak mau.” Trus gue bilang, “Nih Mak pake perhiasan, masa polos gitu.” Gue juga nawarin untuk mengantar karena gue gak mau dia pergi sendirian. Gue sms Bboy (pacarku) dan membatalkan janjian kita karena mau anter Mama ke pesta. Tapi Nyokap nolak dan bilang, “Gak usah Lik, Mama sendiri aja.” Kemudian gue terbangun, sedih dan nangis. I didn’t want to wake up and end this dream.
Gue gak yakin orang lain bisa mengerti betapa hancur dan sedihnya gue ditinggal Nyokap. Yes, I know she’s happy now. Gue juga tahu ayat FT yang bilang jangan sedih seperti kehilangan harapan or seperti gk percaya Tuhan dll. Tapi tetap gak membuat perasaan-perasaan ini hilang. Yap, tengah malam gue masih nangis, masih berharap dia gak pergi, masih pengen ketemu, masih pengen disupport dalam doa-doanya ketika gue sedih dan terluka. Yap I admit it, gue sangat ketergantungan sama figur Mama. Gak Cuma gue sih, tapi adik-adik gue yang lain juga. Cuma kami berlima yang bisa mengerti perasaan kami satu sama lain saat ini. Karenanya, please gak usah komentar ya.
I feel like an orphan now.
Sejak rumah tangga Bokap dan Nyokap tak terselamatkan, gue anak pertama yang memilih minggat dari rumah Bokap, meninggalkan kemapanan untuk hidup dalam kondisi sangat pas-pas-an sama Nyokap. Nop, gue gak menangisi perpisahan mereka. Jujur, gue sangat bersyukur akan keputusan Nyokap untuk keluar dari rumah, walau hanya berbekal pakaian tanpa uang seperak pun, hasil gono gini yang Bokap kasih ke dia. Kenapa? Karena sejak kecil memang RT mereka sangat tidak sehat. Masih lekat dalam ingatan gue, waktu SMP saat gue sedang belajar untuk menghadapi Ebtanas, hampir setiap subuh, gue harus memisahkan Bonyok yang berantem. Menyaksikan ia dipukulin, dijambak, ditendang, rasanya pedih banget. Entah kekuatan dari mana yang memampukan gue yang (wkt itu) kecil dan kurus untuk memisahkan Nyokap dari amukan Bokap, karena Nyokap menyiram sang WIL dalam hubungan RT mereka dengan air (Keren Mak!!! She deserved it!). So, ketika dia akhirnya gak kuat untuk harus serumah dengan perempuan itu dan memutuskan untuk pergi, gue dukung abis. I’ll do the same thing if I was her.
Hidup kita pas-pas-an banget. Gue inget kita ngontrak di sebuah kamar di Pondok Labu. Berbagi kamar mandi dengan penghuni lainnya, uang sekolah dan uang jajan gue waktu itu pun dibantu adik-adik Mama (padahal katanya saya anak orang kaya loh..he he he. Life is so unfair? Indeed!). Puji Tuhan lama-lama kondisi berubah. Nyokap dapet pekerjaan dan akhirnya satu persatu kami kakak beradik semua bisa kumpul sama Nyokap, sekolah bahkan kuliah. Entah bagaimana caranya dia jungkir balik, tetapi kami tahu dia wanita yang bertanggung jawab, penuh cinta dan mau lakukan apa saja untuk kami anak-anaknya. That’s why I love and adore her so much. Sehingga ketika ia pensiun dan mengalami kebangkrutan, tidak seorang pun dari kami yang diam saja membiarkan ia hidup terlunta-lunta. Hampir semua yang ia mau, ia bisa dapatkan, meskipun sudah tidak bisa lagi produktif (kecuali Blackberry, ya Mak? Ha ha ha. Lagian aneh banget udah tua minta BB, supaya bs chatting and facebook-an katanya.)
Dia seorang pendoa yang luar biasa. Waktu masih sehat, ia rajin ke sana ke mari untuk berdoa, walau kadang harus dengan kendaraan umum. Setiap kali ada masalah, ia selalu berdoa dan berpuasa. Karena ia suka berdoa, maka tak heran jika sepanjang hidupnya ia mengalami banyak mujizat dan pertolongan dari Tuhan langsung. Ia juga pemberi yang luar biasa. Seorang yang murah hati, sehingga Ia pun kerap mengalami banyak kemurahan Tuhan, bahkan sampai pada hari wafatnya.
Sejak gue tinggal sama Nyokap, menikah dan punya anak, ketergantungan gue sama nyokap sangat luar biasa. Kadang-kadang gue masih ngerecokin dia dengan telpon-telpon hanya untuk menanyakan bumbu dan cara memasak. Setiap kali sedih, kesel dan mengalami masalah, udah pasti no telp dia akan gue pencet untuk curhat. Dia akan menghibur, berdoa bahkan kalau dia mampu, dia akan lakukan yang dia bisa untuk menolong gue. Dia pilar penopang hidup gue. Gue tumbuh besar dan dewasa dalam asuhan Mama, seorang single parent yang kuat. Dia adalah Ibu juga Ayah buat gue. Kehilangan dia itu bikin gue gamang. Sebuah perasaan yang gue sulit untuk jelaskan. Rasanya langit ambruk dan dada gue sesek banget.
Yang membuat hati gue makin hancur adalah kesadaran, bahwa gue belum bisa balas apa yang sudah ia perbuat dalam hidup gue. Waktu ia sakit, gue gak bisa temenin terus-terusan karena gue dan Mama terpisah kota. Walau apa pun yang dia minta untuk gue lakukan pasti akan gue usahakan untuk lakukan tapi memang kadang kondisi yang tidak memungkinkan.
Rest in peace Mam. I miss you so much.
Kamis, 05 Januari 2012
Personal Trainer Genit &1000 Rupiah
Mengawali hari ini dengan ritual biasa..Bangun, berdoa, membaca renungan, sarapan trus lanjut pergi ke tempat fitness. Karena gue memang belum mampu untuk membayar seorang personal trainer khusus, terpaksa harus rajin browsing, baca dan tanya sana sini he he (gak modal beut yak?). Entah mungkin gue yang ke gr-an, tp gue sempet rada gak nyaman tadi, karena beberapa kali mergokin seorang PT dan orang-orang yg ia latih ngeliat gue sambil ketawa-ketawa. Sekali mungkin kebetulan tp klo beberapa kali rada bikin jengah juga. Sempet percaya diri gue ambruk. Jadi mikir juga sih, apa ada gerakan yg salah? Atau gue keliatan begonya (krn mmg gak pernah belajar khusus u/ nge-gym, cuma mengandalkan ilmu dr browsing dan follow beberapa intruktur kebugaran di twitter). Hei, tp orang PD macam gue akhirnya gak mau pusing soal begituan. Biar aja deh orang mau ngomong apa, lah wong memang sikon gk memungkinkan. Lagian liat gayanya tuh PT yg sengak dan sering gue pergokin cium-ciuman sama tante2 binaannya, bikin gue makin maleeees juga kok mau jadiin doi PT gue.
Main alat, barbel, sit up sampe treadmill akhirnya 1,5 jam kelar. Keringet asem bikin gue kudu mandi secara mau langsung ke kantor. Apesnya pas gue lagi keramas denganbusa di kepala yang banyak, tiba-tiba air mata. Maaaaaak, panik dong. Gak mungkin lanjutin mandi di kantor dengan rambut penuh shampo di angkot. Akhirnya kudu nunggu dulu sampe dianter air seember sama pengurus tempat kebugaran, yang berakibat gue telat ke kantor. Di angkot kesialan kembali menimpa. Dah telat, terik, tas berat bgt, eh ndilalah dapet angkot yang ngetem plus penuh asep rokok. Muke gue kayanya dah mejikuhibiniu nahan kesel. Puncaknya kejengkelan terjadi pas gue turun angkot dan sang pengemudi angkot memberi kembalian kurang 1000 rupiah dengan sengaja. Gue sewot dan jengkel banget. Hati dah keseeeel sampe refleks mengumpat. Dengan bete gue ambil BB gue dengan niat pengen nyampah di twitter u/ menumpahkan kekesalan gue. Tapi tiba-tiba sudut pandang gue berubah.
Di atas becak yg membawa gue masuk ke kantor, tiba-tiba di benak terlintas sebuah kalimat yang merubah mood, suasana hati dan sudut pandang gue tentang peristiwa tadi. Apa sih arti 1000 rupiah buat loe sampe segitunya loe sewot? Buat gue 1000 rupiah memang gak besar, tapi gue jengkel aja dengan caranya yang secara sengaja menipu gue. Well, gimana kalau ternyata dia sampe nekat nipu loe karena setorannya belum kekumpul, ada anak istri yang harus dia kasih makan? Tiba-tiba gue jadi keinget tentang cerpen seorang penulis tentang copet dari sisi yang berbeda. Bukan karena survey tapi justru karena sang penulis pernah kecopetan. Wah, doi aja yg kecopetan banyak masih bisa berempati masa sih gue Cuma 1000 rupiah aja gusar banget.
Walau gue tetap gak suka dengan cara pak supir angkot tadi, tapi akhirnya gue merelakan uang 1000 rupiah dan menarik semua umpatan2 yang sempat terbersit di hati gue tadi (ngumpatnya cuma berani dalam hati he he padahal dosanya sama ya bok :D). Yah, mungkin nasibnya tidak seberuntung gue. Mungkin 1000 rupiah berarti begitu besar buatnya drpd buat gue. Kekesalan karena mengalami bbrp hal gk enak pagi ini pun lenyap. Toh akhirnya gue bisa mandi dan bisa sampe kantor walau telat. Ngalamin hal-hal di atas gak lantas meruntuhkan langit di atas kepala gue kan? Life still goes on, I still survive and blessed.
Kalau sore ini gue harus melakukan sebuah hal yang “harus” dengan konsekuensi mengalami macet total karena hujan seharian pun, rasanya tidak serta merta membuat gue jadi orang termalang sedunia toh? Mengubah sudut pandang dari aku menjadi dia dan mereka, ternyata manjur mengubahkan mood, suasana hati, bahkan perilaku kita. Coba aja ya…(kalau lagi kesal he he) GBU.
Langganan:
Komentar (Atom)





