Jumat, 27 Januari 2012

I miss you so much, Mom...


Bangun tidur dengan perasaan gloomy, galau or whatever yang sejenis tuh gak enak banget. Penyebab kegalauan sangat gue pagi ini adalah mimpi ketemu Nyokap. Jelas banget setiap detailnya. Dia mau ke pesta resepsi pernikahan tapi herannya polos banget. She looked happy though. Berblouse hitam dan mengenakan rok brokat berwarna merah. Waktu gue bilang, “Mak, roknya keren deh.” Dgn gaya centilnya (yang susah gue lupa) dia jawab, “Iya dong. Ini kan bahan yang mau gue kasih ke elo, tapi loe gak mau.” Trus gue bilang, “Nih Mak pake perhiasan, masa polos gitu.” Gue juga nawarin untuk mengantar karena gue gak mau dia pergi sendirian. Gue sms Bboy (pacarku) dan membatalkan janjian kita karena mau anter Mama ke pesta. Tapi Nyokap nolak dan bilang, “Gak usah Lik, Mama sendiri aja.” Kemudian gue terbangun, sedih dan nangis. I didn’t want to wake up and end this dream.

Gue gak yakin orang lain bisa mengerti betapa hancur dan sedihnya gue ditinggal Nyokap. Yes, I know she’s happy now. Gue juga tahu ayat FT yang bilang jangan sedih seperti kehilangan harapan or seperti gk percaya Tuhan dll. Tapi tetap gak membuat perasaan-perasaan ini hilang. Yap, tengah malam gue masih nangis, masih berharap dia gak pergi, masih pengen ketemu, masih pengen disupport dalam doa-doanya ketika gue sedih dan terluka. Yap I admit it, gue sangat ketergantungan sama figur Mama. Gak Cuma gue sih, tapi adik-adik gue yang lain juga. Cuma kami berlima yang bisa mengerti perasaan kami satu sama lain saat ini. Karenanya, please gak usah komentar ya.

I feel like an orphan now.

Sejak rumah tangga Bokap dan Nyokap tak terselamatkan, gue anak pertama yang memilih minggat dari rumah Bokap, meninggalkan kemapanan untuk hidup dalam kondisi sangat pas-pas-an sama Nyokap. Nop, gue gak menangisi perpisahan mereka. Jujur, gue sangat bersyukur akan keputusan Nyokap untuk keluar dari rumah, walau hanya berbekal pakaian tanpa uang seperak pun, hasil gono gini yang Bokap kasih ke dia. Kenapa? Karena sejak kecil memang RT mereka sangat tidak sehat. Masih lekat dalam ingatan gue, waktu SMP saat gue sedang belajar untuk menghadapi Ebtanas, hampir setiap subuh, gue harus memisahkan Bonyok yang berantem. Menyaksikan ia dipukulin, dijambak, ditendang, rasanya pedih banget. Entah kekuatan dari mana yang memampukan gue yang (wkt itu) kecil dan kurus untuk memisahkan Nyokap dari amukan Bokap, karena Nyokap menyiram sang WIL dalam hubungan RT mereka dengan air (Keren Mak!!! She deserved it!). So, ketika dia akhirnya gak kuat untuk harus serumah dengan perempuan itu dan memutuskan untuk pergi, gue dukung abis. I’ll do the same thing if I was her.

Hidup kita pas-pas-an banget. Gue inget kita ngontrak di sebuah kamar di Pondok Labu. Berbagi kamar mandi dengan penghuni lainnya, uang sekolah dan uang jajan gue waktu itu pun dibantu adik-adik Mama (padahal katanya saya anak orang kaya loh..he he he. Life is so unfair? Indeed!). Puji Tuhan lama-lama kondisi berubah. Nyokap dapet pekerjaan dan akhirnya satu persatu kami kakak beradik semua bisa kumpul sama Nyokap, sekolah bahkan kuliah. Entah bagaimana caranya dia jungkir balik, tetapi kami tahu dia wanita yang bertanggung jawab, penuh cinta dan mau lakukan apa saja untuk kami anak-anaknya. That’s why I love and adore her so much. Sehingga ketika ia pensiun dan mengalami kebangkrutan, tidak seorang pun dari kami yang diam saja membiarkan ia hidup terlunta-lunta. Hampir semua yang ia mau, ia bisa dapatkan, meskipun sudah tidak bisa lagi produktif (kecuali Blackberry, ya Mak? Ha ha ha. Lagian aneh banget udah tua minta BB, supaya bs chatting and facebook-an katanya.)

Dia seorang pendoa yang luar biasa. Waktu masih sehat, ia rajin ke sana ke mari untuk berdoa, walau kadang harus dengan kendaraan umum. Setiap kali ada masalah, ia selalu berdoa dan berpuasa. Karena ia suka berdoa, maka tak heran jika sepanjang hidupnya ia mengalami banyak mujizat dan pertolongan dari Tuhan langsung. Ia juga pemberi yang luar biasa. Seorang yang murah hati, sehingga Ia pun kerap mengalami banyak kemurahan Tuhan, bahkan sampai pada hari wafatnya.

Sejak gue tinggal sama Nyokap, menikah dan punya anak, ketergantungan gue sama nyokap sangat luar biasa. Kadang-kadang gue masih ngerecokin dia dengan telpon-telpon hanya untuk menanyakan bumbu dan cara memasak. Setiap kali sedih, kesel dan mengalami masalah, udah pasti no telp dia akan gue pencet untuk curhat. Dia akan menghibur, berdoa bahkan kalau dia mampu, dia akan lakukan yang dia bisa untuk menolong gue. Dia pilar penopang hidup gue. Gue tumbuh besar dan dewasa dalam asuhan Mama, seorang single parent yang kuat. Dia adalah Ibu juga Ayah buat gue. Kehilangan dia itu bikin gue gamang.  Sebuah perasaan yang gue sulit untuk jelaskan. Rasanya langit ambruk dan dada gue sesek banget.

Yang membuat hati gue makin hancur adalah kesadaran, bahwa gue belum bisa balas apa yang sudah ia perbuat dalam hidup gue. Waktu ia sakit, gue gak bisa temenin terus-terusan karena gue dan Mama terpisah kota. Walau apa pun yang dia minta untuk gue lakukan pasti akan gue usahakan untuk lakukan tapi memang kadang kondisi yang tidak memungkinkan.

Maafin Uli ya Mak…Uli belum bisa balas dan membanggakan Mama tapi Mama sudah keburu pergi. Uli tahu Mama sekarang sudah senang sama Bapa di sorga. Tidak ada lagi sakit, air mata dan kesedihan yang Mama alami di sana. Uli janji Mak, Uli akan selalu mengingat dan melakukan nasehat Mama.  

Rest in peace Mam. I miss you so much.


1 komentar: