Beberapa minggu lalu, ketika mendengarkan suami terkece khotbah,
Roh Kudus mengingatkan gue akan kehidupan gue yang lama. Mau tahu bagaimana
keadaan gue sebelum gue ketemu Kristus?
“Hidup yang tak menentu arah tujuan..Dalam tawa mereka, tersimpan duka..”
Bait lagu di atas tepat menggambarkanny! Berlatar belakang kepahitan dan haus kasih, akhirnya mencari kasih di jalan dan hidup berantakan di sebuah taman kelam. Bersama para sahabat dan saudara senasib sepenanggungan, kita mengisi hari dengan tertawa, menangis, mabuk dan bersenang-senang. Kelihatannya sih happy tapi sebenarnya ‘sakit’. We were longing for love and acceptance. Sekalipun sepertinya kelam, tetapi kenangan masa itu menjadi kenangan indah untuk gue kenang sekarang. Kenal arti persahabatan, membuat kehidupan remaja gue menjadi seru juga menyenangkan. Tapi akhirnya, jerat Narkoba membuat satu persatu jalinan kawan meregang. Tidak hanya meregang, bahkan gue harus merelakan dengan berat hati, beberapa sahabat yang ‘pergi terlalu cepat’.
Berbincang dengan salah seorang sahabat tentang masa lalu, membuat ia berkata begini ke gue, “Li, gue gak yakin semua orang Kristen ngerti apa itu Amazing Grace atau anugerah. Tapi, gue ngerti bangeeeet! Kebayang gak Li, hidup kita dulu seperti apa, tetapi kemudian Tuhan tetap mau selamatkan dan pulihkan. Kita yang benar-benar gak layak, Dia layakkan. Manusia aja udah give up kan sama kita?”
Pernyataannya menggugah hati gue. Gue yang gak cantik, gak punya banyak bakat dan talenta, juga bukan konglomerat. Gak ada yang spesial yang membuat Tuhan akan diuntungkan, kalau gue diselamatkan-Nya. What would happen with my life without Jesus? Gak kebayang! Entah gue pun tinggal nama yang tidak membekaskan arti sedikit pun atau hidup dalam penderitaan yang lebih pedih, dari pada sekedar kepedihan karena kepahitan akan orang tua. Menikah dengan laki-laki jahat, mungkin? Iiih serem! Jadi, klo sekarang gue menikmati hidup dalam kepenuhan berkat Tuhan, itu semata-mata cuma karena “ANUGERAH”.
So, what is "Amazing Grace" anyway? “Amazing Grace” adalah kesadaran
diri, bahwa kita tuh sebenarnya terlalu ‘brengsek’ untuk diselamatkan
oleh Allah.
“Hidup yang tak menentu arah tujuan..Dalam tawa mereka, tersimpan duka..”
Bait lagu di atas tepat menggambarkanny! Berlatar belakang kepahitan dan haus kasih, akhirnya mencari kasih di jalan dan hidup berantakan di sebuah taman kelam. Bersama para sahabat dan saudara senasib sepenanggungan, kita mengisi hari dengan tertawa, menangis, mabuk dan bersenang-senang. Kelihatannya sih happy tapi sebenarnya ‘sakit’. We were longing for love and acceptance. Sekalipun sepertinya kelam, tetapi kenangan masa itu menjadi kenangan indah untuk gue kenang sekarang. Kenal arti persahabatan, membuat kehidupan remaja gue menjadi seru juga menyenangkan. Tapi akhirnya, jerat Narkoba membuat satu persatu jalinan kawan meregang. Tidak hanya meregang, bahkan gue harus merelakan dengan berat hati, beberapa sahabat yang ‘pergi terlalu cepat’.
Berbincang dengan salah seorang sahabat tentang masa lalu, membuat ia berkata begini ke gue, “Li, gue gak yakin semua orang Kristen ngerti apa itu Amazing Grace atau anugerah. Tapi, gue ngerti bangeeeet! Kebayang gak Li, hidup kita dulu seperti apa, tetapi kemudian Tuhan tetap mau selamatkan dan pulihkan. Kita yang benar-benar gak layak, Dia layakkan. Manusia aja udah give up kan sama kita?”
Pernyataannya menggugah hati gue. Gue yang gak cantik, gak punya banyak bakat dan talenta, juga bukan konglomerat. Gak ada yang spesial yang membuat Tuhan akan diuntungkan, kalau gue diselamatkan-Nya. What would happen with my life without Jesus? Gak kebayang! Entah gue pun tinggal nama yang tidak membekaskan arti sedikit pun atau hidup dalam penderitaan yang lebih pedih, dari pada sekedar kepedihan karena kepahitan akan orang tua. Menikah dengan laki-laki jahat, mungkin? Iiih serem! Jadi, klo sekarang gue menikmati hidup dalam kepenuhan berkat Tuhan, itu semata-mata cuma karena “ANUGERAH”.
Dan “anugerah” tersebut bisa sampai ke gue tentu karena ada
orang-orang yang Tuhan pakai untuk ambil andil di dalamnya. Gue tidak
hanya berhutang kepada Kristus, tetapi juga kepada beberapa orang, yang
mau memberikan dirinya dipakai Tuhan untuk membawa gue kepada Bapa.
Hutang yang tidak akan pernah bisa gue bayar.
Dan, gue bukan orang yang bisa hidup santai dengan punya hutang! Walau gue tahu, kalau apa pun yang gue kerjakan dan lakukan, gak akan bisa melunasi hutang gue, tetapi bukan berarti gue diem aja dan anggap impas. I don’t want to take it for granted. That’s why I serve Jesus with my whole heart. Setiap kali Bapa suruh gue untuk melakukan sesuatu, gue gak pernah bilang ‘gak’, meskipun jujur, kadang tugas itu sepertinya di luar kemampuan gue. Such as, jadi Wl. Ha ha ha.. Gue gak punya suara bagus dan kemampuan nyanyi yang mumpuni sebenarnya. Cuma karena anugerah-Nya saja, gue bisa melakukannya. Juga waktu awal Tuhan suruh gue penginjilan dan berkhotbah, puasanya berhari-hari bok saking takut krn ngerasa gak bisa!! Apalagi kalau bicara soal memberi ‘uang’. Gue bukan orang kaya raya dengan uang berlimpah, tetapi kalau Tuhan gerakkan, gue amat susah nolak. “Memberi itu tidak harus tunggu kaya,” kata Tuhan. Contohnya: Persembahan Janda miskin (Lukas 21:4).
Well, gue menulis hal-hal di atas bukan bermaksud untuk pamer, tetapi untuk menceritakan, bahwa hidup sebagai orang yang berhutang tak terbayar, membuat gue tidak bisa berkata, “Tidak!” kepada Allah. Gue juga tidak mungkin menjadi sombong untuk pencapaian-pencapaian gue saat ini, karena I know for sure, that I am nothing without GOD. Bisa apa sih gue, klo gak karena Tuhan????
Dan gue membayar hutang gue kepada mereka yang juga memiliki andil dalam karya keselamatan Kristus dalam hidup gue, dengan cara memberi diri untuk dipakai Tuhan seperti mereka. Gue gak mau menyerah untuk memberitakan Injil dan melayani orang-orang untuk dibawa kepada Yesus. Setiap kali gue capek dan mulai malas, gue akan ingat, bahwa apa jadinya gue, kalau dulu mereka menyerah dalam menjangkau gue dan keluarga gue?
Dan, gue bukan orang yang bisa hidup santai dengan punya hutang! Walau gue tahu, kalau apa pun yang gue kerjakan dan lakukan, gak akan bisa melunasi hutang gue, tetapi bukan berarti gue diem aja dan anggap impas. I don’t want to take it for granted. That’s why I serve Jesus with my whole heart. Setiap kali Bapa suruh gue untuk melakukan sesuatu, gue gak pernah bilang ‘gak’, meskipun jujur, kadang tugas itu sepertinya di luar kemampuan gue. Such as, jadi Wl. Ha ha ha.. Gue gak punya suara bagus dan kemampuan nyanyi yang mumpuni sebenarnya. Cuma karena anugerah-Nya saja, gue bisa melakukannya. Juga waktu awal Tuhan suruh gue penginjilan dan berkhotbah, puasanya berhari-hari bok saking takut krn ngerasa gak bisa!! Apalagi kalau bicara soal memberi ‘uang’. Gue bukan orang kaya raya dengan uang berlimpah, tetapi kalau Tuhan gerakkan, gue amat susah nolak. “Memberi itu tidak harus tunggu kaya,” kata Tuhan. Contohnya: Persembahan Janda miskin (Lukas 21:4).
Well, gue menulis hal-hal di atas bukan bermaksud untuk pamer, tetapi untuk menceritakan, bahwa hidup sebagai orang yang berhutang tak terbayar, membuat gue tidak bisa berkata, “Tidak!” kepada Allah. Gue juga tidak mungkin menjadi sombong untuk pencapaian-pencapaian gue saat ini, karena I know for sure, that I am nothing without GOD. Bisa apa sih gue, klo gak karena Tuhan????
Dan gue membayar hutang gue kepada mereka yang juga memiliki andil dalam karya keselamatan Kristus dalam hidup gue, dengan cara memberi diri untuk dipakai Tuhan seperti mereka. Gue gak mau menyerah untuk memberitakan Injil dan melayani orang-orang untuk dibawa kepada Yesus. Setiap kali gue capek dan mulai malas, gue akan ingat, bahwa apa jadinya gue, kalau dulu mereka menyerah dalam menjangkau gue dan keluarga gue?
Kembali ke hari Minggu di mana gue mendengarkan suami terkece gue khotbah tentang ‘Misi’. Gue melayangkan pandangan ke sekeliling, dan tampak pandangan-pandangan bosan dan tidak antusias akan topik ini. Topik yang memang tidak menarik, karena topik ini bukan topik berkat yang akan menyenangkan daging.
Tetapi, bagi mereka yang paham, bahwa sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berhutang, maka beban akan jiwa-jiwa tidak mungkin tidak membakar jiwa mereka. Mereka yang tahu persis apa itu arti “anugerah”, tidak akan mungkin biasa-biasa saja atau sembarangan saat melayani Tuhan. Mereka yang mengerti, kalau tanpa Yesus, maka mereka bukan siapa-siapa, pasti tidak akan bisa menjadi congkak akan pencapaian mereka.
Mereka yang merasa berhutang paling banyak kepada Allah, adalah mereka yang pasti akan terlebih mengasihi Dia. (Lukas 7:41-42). Dan, mereka yang mengasihi Dia, tidak mungkin berkata, “Tidak!” akan perintah-perintah-Nya, terutama perintah “Amanat Agung-Nya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar