Gue pernah menulis, bahwa bahasa sayang itu antara lain dengan
memaafkan..Tetapi hari ini gue mau menambahkan sebuah bentuk lain dari
sayang..
Dalam satu kesempatan, gue and Jamie nonton tayangan infotainment
yang membahas tentang perceraian sepasang artis yang ribut tentang hak
asuh anak. Jamie dengan polos bertanya, "Mi, cerai itu apa sih?" Gue
mencoba menjelaskan dgn sederhana, bahwa karena suatu hal pasangan suami
istri gak bisa lagi tinggal sama-sama. Lalu Jamie menanggapi dengan
pernyataan yang sangat menarik, "Mi, kalau Mami Papi cerai, aku mau
tinggalnya sama Papi ya. Jangan paksa-paksa aku." ;)
Waktu gue cerita statement Jamie di atas ke beberapa teman (gank
demiters tepatnya), mereka nanya apa tanggapan gue soal itu. Gue jawab,
klo gue gak masalah. Di mana Jamie nyaman dan asal dia bahagia, buat gue
itu yang paling penting. Seorang temen protes, "Kok bisa-bisanya loe
rela gitu?"
Why? Because I love him so much. For me his happiness is above mine.
Gue gak suka liat orang tua yang mengatasnamakan kebahagiaan anak2
untuk ego pribadi mereka sendiri. Btw, ini gak berarti gue sama suami
mau cerai yaaaa, he he he…
Sayang juga berarti tahu, bahwa kita mesti mundur demi kebahagiaan
orang yang kita sayang, kalau memang kita bukan bagian dari kebahagiaan
mereka.
I've once let go a grant love of mine, because I wasn't his
happiness..Though I was very sad, but it wasn't hard either. The
encouragement you get from pure love is awesome ;)
Bahasa sayang juga berarti memutuskan untuk tidak pernah membiarkan
orang yang kita pilih berada dalam posisi sulit, karena kita. Banyak
orang yang senang menempatkan pasangannya dalam situasi harus memilih
antara dirinya atau pekerjaan/keluarganya. Contoh: Seorang istri yang
bertengkar dengan mertuanya, memaksa suami untuk memilih
keberpihakkannya. "Loe pilih gue atau ortu loe?" Well, klo gue di
posisi itu, gue pasti menderita berat.
Our parents/family are not
the people who mean nothing to us, right? How can I choose between them?
If I have to choose and then lose one of them, I will definitely break
down in tears.
Now, I love my husband so much. And I know he loves me too.
Karena gue tahu dia sangat sayang sama gue, maka pasti sulit buatnya
untuk memilih antara gue dan keluarganya or antara gue dengan
pelayanannya.
In every confrontation about them, I choose to back off.
Bukan karena gue gak PeDe, bahwa gue gak akan jadi pilihannya. Tapi karena gue
tahu, dia pasti memilih gue, namun dengan hati yang sakit. Seeing him getting hurt is one thing I hate the most.
Do I a noble woman? Nop! He he he..But, the fact that now I am
turning into this point, I admit that I am proud of myself. I used to be
a very posesive woman. I didn’t even share my friends to others..Ngeri kan ya??? Itu juga mungkin yang menyebabkan, para mantan gue gak tahan lama-lama berhubungan ama gue...Siapa juga yang betah punya cewek yang posesif kan? :D
I thank God for removing the old me..
Gue juga berterimakasih sama Nyokap yang sudah ngasih teladan,
bagaimana mengasihi tidak sekedar dengan kata-kata tetapi juga dengan
tindakan dan hati yang legowo…Dia hampir tidak pernah berkonflik dengan
menantunya. Ngalah sama menantu, bukan karena dia takut, tapi karena
Nyokap sayaaaaaaang banget sama anak-anaknya. **Suatu hari Dia bilang
gini ke gue, "Masa sih gue seneng ngeliat anak gue berantem, apalagi cerai,
gara-gara gue? Kalo elo? Memangnya loe seneng liat sodara loe
berantem sama pasangannya gara-gara elo, Li?"
I answered her, "No I won't like it either."
Gue banyak melihat konflik antara pasangan suami istri yang bukan
disebabkan oleh faktor keduanya atau perselingkuhan salah satu pihak,
tetapi justru karena orang-orang di dekat mereka yang terlalu ikut
campur dan mengganggu..
Seorang sahabat pernah curhat, bahwa ia sangat membenci abang yang
sebelumnya ia sangat sayang, karena istri sang abang memperlakukan ibu
mereka dengan tidak baik.
Ada juga seorang rekan yang sangat kecewa dan pahit hati, karena
merasa sang suami lebih banyak memberi uang ke ibunya dari pada ke sang
istri. Seorang suami yang disetir oleh ibunya adalah mimpi buruk yang
panjang untuk seorang istri. Jika sang suami atau sang ibu tidak mau
berubah, gue gak akan kaget kalau beberapa waktu ke depan, perceraian
akan menimpa pasangan tersebut. Puas..? Puas.. Puas????
Banyak kasus lain di mana gue juga melihat cinta berubah menjadi
benci, karena tidak mengerti apa arti cinta sejati. Banyak orang
mengindahkan batasan-batasan yang seharusnya mereka jaga dan jangan
pernah mereka langgar, sedekat apa pun hubungan mereka. Persahabatan yang
terjalin antara gue dan sahabat-sahabat gue, hingga bisa sampai berumur
puluhan tahun itu juga semata karena kami tidak pernah melanggar batasan
itu. Ada privacy yang gak boleh kita utak atik, walau ia orang terdekat
kita.
Sayangnya dalam budaya Indonesia, privacy menjadi batasan
yang kerap tidak dianggap penting untuk dijaga. Usil sudah jadi penyakit
yang dianggap wajar dan tidak perlu diobati, padahal dalam jangka
panjang sangat mematikan. Ini yang menyebabkan
“Love rotten and then turns into hate.” I really dislike it!
So, bentuk lain dari sayang versi gue selain memaafkan adalah:
When
he/she/they are more precious than my own pride or ego, that what love
is. Never let your beloved spouse/family/friends getting hurt because of
you. Their happiness and peace have to be your priority. And even when
their ego hurts your own pride, endure it!
And last but not least, we have to let the people we love find their own happiness, whether it includes you or not.
Shalom! :D
**Jangan kaget yaaa Nyokap gue memang agak preman. Kadang, dia berbahasa gue elo ke kita anak-anaknya*