Dalam perjalanan pulang setelah liburan Natal dan Tahun Baru, saya merenungkan sebuah terminologi “Tiada Yang Mustahil Bagi Allah Dan Orang Percaya”. Pengistilahan yang kerap sekali saya dengar beberapa waktu belakangan, baik di ibadah-ibadah maupun melalui ucapan saudara-saudara seiman, dalam rangka menguatkan diri mereka dan saya untuk tidak takut menghadapi tahun 2012, yang katanya begitu tidak pasti dan keadaan akan semakin sulit.
Tidak hanya di kalangan gereja tetapi di dunia sekuler pun, para motivator kerap menggunakan terminologi “Tidak Ada Yang Mustahil”, sebagai dorongan bagi sikap optimis, bahwa kita mampu menjadi apa saja dan mencapai sukses (biasanya dalam bidang bisnis atau karier). Ada sedikit ketidaknyamanan di hati saya pribadi melihat kalimat tersebut diucapkan tidak pada konteks yang benar.
Banyak kita kerap memakai ayat Lukas 1:37 dan Markus 9:23 dalam konotasi berkat keuangan. Banyak orang yang saya dengar mengutip perkataan Tuhan ini, saat mereka mengklaim janji-janji Allah atas hidup yang berkelimpahan dalam konotasi yang sempit, yaitu hanya berkat keuangan saja. Ketika mereka merindukan memiliki rumah, mobil, terbebas dari lilitan hutang, bisnis yang sukses atau promosi di karier, kerap kali ayat-ayat di atas pun kita gembar-gemborkan, yang tanpa kita sadari sebenarnya hal tersebut mencerminkan kekhawatiran kita akan realitas tidak enak yang sedang kita alami. Bahkan, kadang saya kerap dibuat geram dengan ungkapan yang diucapkan dengan nada seolah-olah Tuhan kita adalah Allah yang pelupa dan kerap harus diingatkan untuk memberkati atau menolong kita. Tidakkah kita melihat jejak keserakahan, juga kekhawatiran serta kerapuhan manusia dibalik akhir sebuah doa dengan ungkapan, “Bukankah tidak ada yang mustahil bagi-Mu ya Allah?” Janji Allah akan kelimpahan, pelipat gandaan dan promosi, hanya kita kaitkan pada bentuk fisik dan materi, tidak salah memang, tetapi ketahuilah, bahwa ada hal yang jauh lebih besar dan berarti, yang Allah mau kita alami lewat janji-janji-Nya tersebut.
Dalam Lukas 1:37, firman Tuhan melalui malaikat Gabriel mengatakan kepada Maria untuk tidak perlu takut karena Ia dipilih Allah untuk mengandung Sang Juruselamat. Ketika Maria bingung bagaimana hal itu mungkin sebab ia belum bersuami, malaikat Gabriel mengatakan, bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kita dapat melihat dalam konteks ini, ayat tersebut muncul untuk menguatkan Maria yang takut dan ragu dalam menjawab visi Allah yang besar melalui hidupnya. Ketika ia mendengar firman Allah di atas, Maria akhirnya berserah dan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ketika Maria mendapat pernyataan tersebut, ia meluruhkan keakuannya dan menundukkan dirinya kepada kehendak Allah. Jadi konsep ‘Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Allah” dalam ayat ini adalah konsep melepaskan bagi Allah dan bukan menerima dari Allah.
Begitu juga jika kita baca Markus 9:23, Yesus mengucapkan kalimat “tidak ada yang mustahil bagi orang percaya” bukan dalam konotasi berkat keuangan atau karier, tetap saat itu ada seorang yang kerasukan setan yang tidak juga keluar sekalipun para murid telah mengusirnya. Tetap konteks yang hadr di sini adalah karya keselamatan dalam Yesus Kristus.
Jadi kita dapat belajar sebuah arti baru dari ungkapan "Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Allah Dan Orang Percaya", yaitu kemampuan Ilahi yang Tuhan curahkan, supaya kita bisa taat melakukan kehendak-Nya dan menggenapi visi-Nya. Pengucapannya harus pada penyelarasan kehendak kita pribadi dengan kehendak Allah, bukan pada *HEDONISME* ala buku The Secret atau konsep motivator-motivator dunia. Contohnya, ketika Allah menyuruh Anda pergi menginjili seseorang yang rasanya tidak mungkin bertobat, pergi saja, karena apa yang mustahil buat manusia itu tidak bagi Allah (Baca Kis. 9:1-17).
Seorang hamba Tuhan menubuatkan, bahwa memasuki tahun Ayin Beth, ekonomi dunia akan memburuk tetapi sejumlah gereja Tuhan dalam ukuran kasih karunia tidak akan menderita dan bahkan melalui tangan mereka akan mengalir aliran keuangan baru untuk satu tujuan, yaitu memfasilitasi penuaian jiwa-jiwa yang sangat besar. Saya mengaminkannya. Mengapa? Karena memang saya percaya, bahwa berkat keuangan yang melimpah memang tidak sulit untuk Allah curahkan atas kita, tetapi bukan untuk kepuasan pribadi atau membiayai gaya hidup kita, tetapi karena ada tujuan Allah yang besar melalui hidup kita, yaitu penuaian jiwa-jiwa yang besar. Jadi jangan kita mengaminkan nubuatan di atas hanya pada batas kalimat: Akan mengalir aliran keuangan baru, dan mengindahkan kalimat lanjutannya yaitu: Untuk memfasilitasi penuaian jiwa-jiwa yang sangat besar.
Allah berkata kepada Musa untuk tidak takut menjalankan panggilan-Nya untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Ia menyertai Musa dan memberikannya kuasa yang luar biasa, kemampuan Ilahi untuk Musa dapat menggenapi visi Allah dalam hidupnya. Begitu juga dengan Anda dan saya. Ketika Allah mempunyai rencana yang besar bagi keselamatan banyak orang melalui kita, maka Ia memberikan peneguhan kepada kita, bahwa apa yang tidak mungkin untuk kita lakukan sebagai manusia, maka bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Pelipatgandaan, promosi juga perkenanan Tuhan tidak hanya berkonteks pada berkat jasmani, tetapi jauh lebih besar dari itu, bahwa Allah hendak memakai hidup kita sebagai alat keselamatan-Nya. Ada pelipatgandaan jiwa-jiwa yang diselamatkan dan diberkati melalui hidup kita. Ada promosi Ilahi atas ketaatan kita dalam melakukan firman-Nya. Dan ada perkenanan Tuhan atas hidup kita, karena hidup kita didapati sesuai dengan kehendak-Nya.